Jakarta, 3 Agustus 2026 – Bareskrim Polri mengungkap modus baru dalam kasus penyelundupan sekitar 20 kilogram ganja ke wilayah Jakarta Utara yang menggunakan sistem pembayaran “pay later”. Dalam skema tersebut, barang diduga dikirim terlebih dahulu kepada penerima, sementara pembayaran baru dilakukan setelah barang diterima atau berhasil diedarkan. Aparat menilai pola ini menjadi salah satu cara yang digunakan pelaku untuk mengurangi risiko kerugian di antara jaringan yang terlibat. Pengungkapan tersebut menjadi bagian dari upaya penegakan hukum terhadap peredaran narkotika yang masih memanfaatkan berbagai metode distribusi. Penyidik kini terus menelusuri jaringan yang diduga terkait dengan pengiriman tersebut.
Menurut hasil penyelidikan awal, sistem “pay later” memungkinkan transaksi berlangsung tanpa pembayaran penuh di muka. Mekanisme itu diduga digunakan untuk membangun kepercayaan antarpelaku sekaligus mengurangi kebutuhan membawa uang tunai dalam jumlah besar saat proses pengiriman. Aparat mendalami bagaimana kesepakatan tersebut dilakukan, termasuk jalur komunikasi dan pihak-pihak yang berperan dalam mengatur distribusi. Pemeriksaan terhadap perangkat komunikasi, aliran dana, serta hubungan antaranggota jaringan menjadi bagian penting dari proses penyidikan. Seluruh bukti akan digunakan untuk mengungkap struktur jaringan secara lebih menyeluruh.
Barang bukti berupa sekitar 20 kilogram ganja memiliki nilai yang cukup besar apabila berhasil diedarkan. Karena itu, penyitaan tersebut dinilai dapat mencegah penyebaran narkotika kepada masyarakat dalam jumlah yang signifikan. Polisi juga menelusuri asal barang, rute pengiriman, serta tujuan akhir distribusi di Jakarta Utara. Informasi tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah kasus ini berkaitan dengan jaringan yang lebih luas. Penyelidikan tidak berhenti pada pelaku yang telah diamankan, tetapi juga diarahkan kepada pihak lain yang diduga memiliki peran dalam rantai peredaran.
Pengungkapan modus pembayaran semacam ini menunjukkan bahwa jaringan peredaran narkotika terus menyesuaikan cara beroperasi untuk menghindari pengawasan aparat. Selain memanfaatkan teknologi komunikasi, pelaku juga dapat menggunakan berbagai pola transaksi agar aktivitas mereka lebih sulit dilacak. Oleh karena itu, penyidikan tidak hanya berfokus pada barang bukti, tetapi juga pada jejak digital dan transaksi keuangan yang berkaitan dengan perkara. Pendekatan tersebut membantu aparat memetakan hubungan antaranggota jaringan secara lebih akurat. Analisis terhadap pola komunikasi menjadi salah satu kunci dalam pengungkapan kasus serupa.
Bareskrim juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempersempit ruang gerak jaringan peredaran narkotika. Kerja sama lintas wilayah diperlukan karena proses pengiriman sering kali melibatkan lebih dari satu daerah. Informasi dari masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membantu aparat mengidentifikasi aktivitas yang mencurigakan. Setiap laporan akan diverifikasi sebelum ditindaklanjuti melalui penyelidikan lebih lanjut. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan sekaligus penindakan terhadap peredaran narkotika.
Kasus ini kembali mengingatkan bahwa peredaran narkotika terus berkembang dengan berbagai modus baru, termasuk dalam pola pembayaran dan distribusi. Pengungkapan oleh Bareskrim menjadi langkah penting untuk memutus rantai peredaran sekaligus mengungkap jaringan yang berada di balik pengiriman barang tersebut. Aparat menegaskan penyelidikan akan terus dikembangkan guna menemukan pihak lain yang diduga terlibat. Upaya penegakan hukum yang konsisten diharapkan mampu menekan peredaran narkotika dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat dari ancaman penyalahgunaan narkoba.








