Jakarta, 23 Mei 2026 – Krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Afghanistan dilaporkan membuat banyak keluarga berada dalam kondisi sangat memprihatinkan hingga mengambil keputusan tragis demi bertahan hidup. Sejumlah laporan kemanusiaan menyebut kemiskinan ekstrem, kelangkaan pekerjaan, dan krisis pangan berkepanjangan telah mendorong sebagian orang tua menjual anak mereka untuk memperoleh uang dan makanan. Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata betapa beratnya situasi yang dihadapi masyarakat Afghanistan sejak konflik panjang dan runtuhnya perekonomian negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Banyak keluarga hidup tanpa penghasilan tetap, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat di tengah terbatasnya bantuan kemanusiaan yang masuk ke wilayah-wilayah terdampak. Organisasi internasional menyebut jutaan warga Afghanistan kini berada di ambang kelaparan dan membutuhkan bantuan darurat segera.
Di berbagai wilayah pedesaan, para orang tua disebut menghadapi pilihan yang sangat sulit ketika tidak lagi mampu memberi makan anak-anak mereka setiap hari. Sejumlah keluarga mengaku terpaksa menyerahkan anak kepada pihak lain dengan imbalan uang demi memastikan anggota keluarga yang tersisa tetap dapat bertahan hidup. Fenomena ini memicu keprihatinan luas dari lembaga kemanusiaan internasional karena anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam krisis berkepanjangan tersebut. Banyak anak dilaporkan kehilangan akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga perlindungan dasar akibat memburuknya kondisi ekonomi keluarga mereka. Situasi ini juga meningkatkan risiko eksploitasi anak dan perdagangan manusia di tengah lemahnya perlindungan sosial di Afghanistan.
Penyebab utama krisis ini tidak hanya berasal dari konflik berkepanjangan, tetapi juga runtuhnya sistem ekonomi nasional setelah perubahan kekuasaan politik beberapa tahun lalu. Banyak bantuan internasional dihentikan atau dibatasi sehingga aktivitas ekonomi menurun drastis dan lapangan pekerjaan semakin sulit ditemukan. Selain itu, bencana kekeringan yang melanda sejumlah wilayah turut memperparah krisis pangan dan membuat produksi pertanian anjlok tajam. Organisasi bantuan kemanusiaan menyebut jutaan warga kini bergantung sepenuhnya pada bantuan makanan untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Namun keterbatasan dana dan akses distribusi membuat bantuan yang tersedia masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat terdampak.
Berbagai lembaga internasional terus mendesak komunitas global agar meningkatkan bantuan kemanusiaan dan membuka akses yang lebih luas bagi distribusi pangan serta layanan kesehatan di Afghanistan. Mereka memperingatkan bahwa tanpa langkah cepat, krisis ini dapat menyebabkan generasi anak-anak Afghanistan kehilangan masa depan akibat kemiskinan, malnutrisi, dan keterbatasan pendidikan. Selain bantuan darurat, banyak pihak juga menilai diperlukan solusi jangka panjang untuk memulihkan ekonomi dan stabilitas sosial negara tersebut. Sejumlah organisasi lokal kini berupaya membantu keluarga rentan dengan menyediakan makanan, tempat penampungan, dan dukungan kesehatan dasar bagi anak-anak. Namun tingginya jumlah warga yang membutuhkan membuat upaya tersebut belum mampu menjangkau seluruh korban krisis.
Kisah tragis para keluarga di Afghanistan menjadi pengingat keras mengenai dampak kemanusiaan dari konflik dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Banyak masyarakat internasional berharap perhatian global terhadap kondisi Afghanistan tidak mereda meski konflik bersenjata sudah tidak lagi mendominasi pemberitaan dunia. Di tengah keterbatasan dan penderitaan yang terus berlangsung, jutaan warga Afghanistan kini hanya berharap pada bantuan kemanusiaan untuk mempertahankan hidup mereka sehari-hari. Organisasi kemanusiaan menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak-anak harus menjadi prioritas utama agar tragedi serupa tidak terus terjadi di masa depan. Situasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa dampak sebuah krisis tidak hanya dirasakan dalam aspek politik dan ekonomi, tetapi juga menghancurkan kehidupan keluarga secara mendalam.





