Jakarta, 5 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah disebut berada di bawah nilai fundamental atau undervalued, menurut penjelasan pimpinan Bank Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian karena mencerminkan adanya tekanan eksternal maupun faktor sentimen pasar yang memengaruhi pergerakan mata uang nasional.
Bank Indonesia mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama pelemahan rupiah adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi di negara tersebut. Aliran modal global yang cenderung kembali ke aset berdenominasi dolar turut memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor global, sentimen pasar yang dipengaruhi ketidakpastian ekonomi dunia juga berperan dalam pergerakan rupiah. Fluktuasi harga komoditas serta dinamika geopolitik menjadi variabel yang turut memengaruhi kepercayaan investor.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai kondisi fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat. Stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta kinerja ekspor dinilai mampu menjadi penopang bagi rupiah dalam jangka menengah hingga panjang.
Otoritas moneter juga menegaskan akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan nilai tukar agar tetap sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi.
Dengan berbagai faktor yang memengaruhi, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dalam waktu dekat. Namun, dengan dukungan kebijakan yang tepat, stabilitas nilai tukar diharapkan dapat kembali terjaga.






