Jakarta, 27 Agustus 2026 – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia mendorong penguatan kerja sama antara negara-negara produsen kelapa sawit untuk menghadapi dinamika perdagangan global. Langkah tersebut dinilai penting karena kelapa sawit menjadi salah satu komoditas strategis yang memberikan kontribusi besar terhadap devisa Indonesia. Nilai ekspor sawit Indonesia disebut mencapai lebih dari US$20 miliar per tahun.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan Indonesia memiliki kepentingan untuk membangun aliansi yang lebih kuat dengan negara produsen sawit lainnya. Kerja sama tersebut diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar negara-negara produsen, menjaga akses ke pasar internasional, serta menghadapi berbagai hambatan perdagangan yang muncul di tingkat global.
Menurut Saleh, penguatan aliansi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) sebagai wadah kerja sama negara-negara penghasil minyak kelapa sawit. CPOPC dinilai memiliki posisi strategis untuk menyatukan kepentingan produsen dalam menghadapi berbagai isu yang berkaitan dengan perdagangan komoditas sawit.
Kerja sama yang lebih kuat diharapkan tidak hanya berfokus pada perdagangan. KADIN mendorong adanya agenda bersama yang mencakup diplomasi perdagangan, penguatan prinsip keberlanjutan, promosi produk sawit, pengembangan pasar baru, hingga riset dan inovasi. Dengan agenda yang lebih terkoordinasi, negara produsen diharapkan dapat menghadapi tantangan industri sawit global secara lebih efektif.
Nilai ekspor sawit yang mencapai lebih dari US$20 miliar per tahun menunjukkan besarnya peran komoditas tersebut bagi perekonomian Indonesia. Devisa yang dihasilkan dari sektor sawit turut mendukung neraca perdagangan dan memberikan kontribusi terhadap penerimaan ekonomi nasional. Karena itu, keberlangsungan akses pasar internasional menjadi salah satu kepentingan utama yang perlu dijaga.
Saleh juga menilai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah berperan dalam memperkuat kerja sama sektor sawit dengan negara-negara produsen di tingkat global. Namun, ia mendorong agar peran lembaga tersebut semakin diperluas sebagai katalisator kerja sama internasional.
Sumber daya yang berasal dari sektor sawit, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk mendukung agenda strategis yang berkaitan dengan diplomasi perdagangan, pengembangan pasar, serta peningkatan daya saing industri. Dengan pendekatan tersebut, manfaat sektor sawit diharapkan tidak hanya dirasakan dari sisi ekspor, tetapi juga mampu memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola sawit dunia.
Di sisi lain, CPOPC menyatakan terus melakukan advokasi untuk memperjuangkan kepentingan sektor sawit di tingkat internasional. Organisasi tersebut juga berupaya memastikan akses pasar bagi negara-negara anggotanya tetap stabil sekaligus meningkatkan persepsi positif masyarakat global terhadap kelapa sawit.
Isu keberlanjutan menjadi salah satu agenda penting dalam upaya tersebut. CPOPC mendorong penerapan sistem keberlanjutan di tingkat internasional sekaligus memperkenalkan berbagai praktik yang telah diterapkan negara-negara produsen kepada negara konsumen. Pendekatan ini diperlukan untuk meningkatkan penerimaan pasar terhadap produk sawit di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu lingkungan.
Selain aspek perdagangan dan keberlanjutan, penguatan komunikasi publik juga menjadi perhatian. CPOPC berupaya memperluas edukasi mengenai manfaat kelapa sawit dengan menggunakan pendekatan berbasis sains, fakta, dan data. Upaya tersebut ditujukan untuk memberikan pemahaman yang lebih seimbang mengenai kontribusi sawit terhadap perekonomian maupun berbagai tantangan yang dihadapi industri.
Generasi muda juga didorong untuk mengambil bagian dalam penyebaran informasi mengenai sektor sawit. Melalui program Young Elaeis Ambassadors, CPOPC melibatkan anak muda dari berbagai negara produsen dan konsumen sawit. Keterlibatan generasi muda dinilai penting karena media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik terhadap berbagai isu, termasuk lingkungan dan komoditas perkebunan.
Bagi Indonesia, penguatan aliansi produsen sawit juga dapat menjadi instrumen untuk memperluas pasar dan mengurangi ketergantungan terhadap kawasan tertentu. Diversifikasi pasar menjadi penting ketika industri menghadapi perubahan kebijakan perdagangan atau hambatan masuk di negara tujuan ekspor. Kerja sama antarpenghasil sawit dapat membantu negara produsen menyusun strategi bersama dalam menghadapi perubahan tersebut.
Penguatan posisi tawar juga diharapkan dapat membantu Indonesia memperjuangkan kepentingan petani dan pelaku industri. Kebijakan perdagangan global tidak hanya berdampak pada perusahaan besar, tetapi juga dapat memengaruhi harga tandan buah segar dan pendapatan petani. Karena itu, keberlanjutan industri sawit perlu dilihat dari rantai pasok secara menyeluruh, termasuk keberadaan petani sebagai bagian penting dari sektor tersebut.
Dengan nilai ekspor yang mencapai lebih dari US$20 miliar per tahun, kelapa sawit tetap menjadi salah satu komoditas strategis bagi Indonesia. KADIN menilai penguatan aliansi dengan negara-negara produsen perlu dilakukan secara lebih terarah melalui CPOPC. Diplomasi perdagangan, keberlanjutan, perluasan pasar, riset, serta penguatan citra positif sawit menjadi sejumlah agenda yang dinilai penting untuk menjaga daya saing industri sekaligus mengamankan kontribusi sawit terhadap devisa nasional.






