Bandung, 25 Agustus 2026 – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, memiliki program pemberdayaan warga binaan melalui produksi kapal. Produk yang diberi merek Sukaboat tersebut dibuat oleh warga binaan dengan berbagai ukuran dan fungsi, mulai dari kapal untuk nelayan hingga kapal cepat. Program ini menjadi salah satu bentuk pembinaan keterampilan agar warga binaan memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana. Produk kapal buatan warga binaan bahkan telah dipasarkan dan jumlahnya disebut sudah menembus lebih dari 25 unit dengan berbagai jenis.
Kegiatan pembuatan kapal tersebut berlangsung di bengkel Sukaboat yang berada di lingkungan Lapas Sukamiskin. Para warga binaan terlibat dalam berbagai tahapan pengerjaan, mulai dari proses perakitan hingga penyelesaian bagian kapal sesuai desain yang telah ditentukan. Mereka mendapatkan kesempatan mempelajari teori sekaligus praktik mengenai pembuatan kapal. Salah satu warga binaan, Wawan, mengaku telah mengerjakan lima unit kapal tipe SB6 selama mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan dalam bengkel membuat dirinya memperoleh pengetahuan baru mengenai teknik dan karakteristik kapal.
Sukaboat memiliki sejumlah varian dengan fungsi yang berbeda. Salah satunya adalah kapal nelayan Sukaboat Fisherman 10 atau SBF-10. Kapal tersebut dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan nelayan dan memiliki panjang sekitar 10 meter. Berbeda dari desain kapal cepat yang lebih modern, SBF-10 mempertahankan tampilan tradisional agar tetap memiliki karakter yang sesuai dengan kapal nelayan Indonesia. Material yang digunakan berupa fiberglass sehingga diharapkan memiliki daya tahan dan perawatan yang lebih mudah dibandingkan kapal kayu.
Pengembangan SBF-10 dilakukan setelah tim Sukaboat mempelajari kebutuhan nelayan rajungan di Cirebon, Jawa Barat. Mereka mengambil kapal nelayan berbahan kayu sebagai salah satu referensi awal, kemudian mengembangkan desain yang sama dengan material fiberglass. Bentuk dan tata letaknya tetap mempertahankan karakter kapal tradisional agar sesuai dengan kebiasaan nelayan ketika bekerja di laut. Pendekatan tersebut membuat kapal tidak hanya mengutamakan aspek teknis, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pengguna di lapangan.
SBF-10 diproyeksikan sebagai salah satu produk yang dapat membantu sektor perikanan. Tim Sukaboat melihat adanya peluang agar kapal buatan warga binaan dapat digunakan oleh nelayan yang membutuhkan armada baru. Mereka juga memikirkan skema pembelian yang memungkinkan nelayan memperoleh kapal melalui pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat atau koperasi nelayan. Dengan skema tersebut, kapal tidak harus dibeli secara tunai sehingga lebih memungkinkan dijangkau oleh pelaku usaha perikanan. Gagasan ini sekaligus menghubungkan program pembinaan warga binaan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat di luar lapas.
Selain kapal nelayan, warga binaan Sukamiskin juga mengembangkan kapal jenis dinghy. Kapal jenis tersebut memiliki ukuran lebih kecil dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan di perairan. Pembuatan kapal berukuran kecil menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan warga binaan sebelum mereka mengerjakan kapal dengan ukuran yang lebih besar. Dari pengalaman membuat kapal berukuran kecil, warga binaan kemudian mendapatkan kesempatan mengerjakan desain dan konstruksi yang lebih kompleks. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses peningkatan keterampilan di bengkel Sukaboat.
Ada pula varian Duchy yang memiliki panjang sekitar 27 feet atau sekitar 8 meter. Kapal jenis ini disebut telah dibuat sebanyak dua unit dan masih dalam proses penyempurnaan. Tim Sukaboat masih melakukan revisi terhadap desain agar produk tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut. Proses revisi menjadi bagian penting dalam pembuatan kapal karena setiap perubahan desain harus mempertimbangkan stabilitas, fungsi, kenyamanan, serta kebutuhan pengguna. Dengan demikian, warga binaan tidak hanya belajar membuat kapal berdasarkan pola yang sudah ada, tetapi juga terlibat dalam proses pengembangan produk.
Sukaboat juga menghasilkan speedboat dengan sejumlah varian. Salah satu yang ditampilkan adalah SB-6, sedangkan terdapat pula SB-8 dengan ukuran dan kemampuan yang berbeda. Produk tersebut menunjukkan perkembangan kemampuan warga binaan dalam mengerjakan kapal yang memiliki karakter lebih cepat dan membutuhkan ketelitian dalam proses pembuatannya. Speedboat membutuhkan perhatian terhadap desain lambung, bobot, mesin, serta keseimbangan ketika digunakan di air. Pengalaman mengerjakan kapal jenis tersebut memberikan tambahan keterampilan teknis kepada warga binaan yang terlibat.
Program produksi kapal ini mendapat kesempatan memperkenalkan produknya melalui ajang Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026 di Kemayoran, Jakarta. Pada Februari 2026, tim Sukaboat berkolaborasi dengan Honda untuk mengikuti pameran tersebut. Di tengah berbagai produk otomotif yang dipamerkan, kapal buatan warga binaan Sukamiskin turut ditampilkan melalui sebuah stan khusus. Kehadiran di pameran memberikan kesempatan bagi Sukaboat untuk memperkenalkan hasil pembinaan warga binaan kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus membuka peluang pasar baru.
Keterlibatan warga binaan dalam produksi kapal juga menjadi bagian dari program pembinaan yang lebih luas di lingkungan pemasyarakatan. Pemerintah mendorong agar warga binaan memperoleh keterampilan produktif selama menjalani masa pidana. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat. Dengan mengikuti proses produksi secara langsung, warga binaan dapat mempelajari kedisiplinan, kerja sama, ketelitian, serta tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan. Pengalaman tersebut memiliki nilai penting karena kehidupan setelah bebas membutuhkan kemampuan untuk kembali bekerja atau membangun usaha secara mandiri.
Produksi kapal juga memperlihatkan bahwa keterampilan warga binaan dapat diarahkan pada bidang yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Pembuatan kapal membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan khusus sehingga keterampilan yang diperoleh selama berada di bengkel dapat menjadi modal untuk mencari pekerjaan setelah bebas. Pengalaman mengerjakan fiberglass, perakitan, desain, maupun proses penyelesaian kapal dapat dikembangkan menjadi keahlian profesional. Dengan demikian, pembinaan tidak hanya memberikan aktivitas selama berada di dalam lapas, tetapi juga membuka peluang bagi warga binaan untuk memiliki masa depan yang lebih produktif.
Pengembangan Sukaboat juga diarahkan pada peningkatan skala produksi dan diversifikasi produk. Selain memenuhi kebutuhan nelayan, tim melihat peluang untuk membuat kapal yang dapat digunakan dalam berbagai sektor. Kapal cepat dapat digunakan untuk kebutuhan transportasi, patroli, maupun kegiatan lain sesuai spesifikasi dan peruntukannya. Diversifikasi tersebut memungkinkan produk warga binaan menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, setiap jenis kapal tetap membutuhkan pengembangan desain dan pengujian yang sesuai dengan fungsi agar aspek keselamatan dan kelayakan tetap menjadi prioritas.
Keberadaan bengkel Sukaboat di Lapas Sukamiskin menjadi contoh bagaimana program pembinaan dapat dikembangkan melalui kegiatan produksi yang memiliki nilai ekonomi. Warga binaan tidak hanya diberikan pelatihan dasar, tetapi juga dilibatkan dalam pengerjaan produk yang benar-benar ditujukan untuk pasar. Produk tersebut kemudian dapat diperkenalkan melalui pameran dan saluran pemasaran lainnya. Pola seperti ini membuat proses pembinaan memiliki orientasi yang lebih nyata karena keterampilan yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam kegiatan produksi.
Beragam kapal yang dihasilkan warga binaan Sukamiskin kini menjadi bagian dari perjalanan pengembangan Sukaboat. Mulai dari kapal nelayan SBF-10, dinghy, Duchy berukuran sekitar 8 meter, hingga berbagai varian speedboat seperti SB-6 dan SB-8, seluruhnya dikerjakan melalui program pembinaan di dalam lapas. Jumlah produk yang telah menembus lebih dari 25 unit menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah berkembang dari sekadar pelatihan menjadi aktivitas produksi yang memiliki pasar. Bagi warga binaan, pengalaman membuat kapal memberikan keterampilan dan kebanggaan tersendiri. Sementara bagi program pemasyarakatan, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk membekali warga binaan dengan kemampuan produktif agar lebih siap kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana.






