Jakarta, 14 September 2026 – Michael Fassbender mengungkap alasan di balik keputusannya menerima peran sebagai alien dalam film fiksi ilmiah Hope garapan sutradara Korea Selatan Na Hong-jin. Aktor asal Irlandia-Jerman tersebut memerankan Ma’veyyo, salah satu makhluk asing yang menjadi bagian penting dalam konflik film. Keputusan Fassbender cukup menarik perhatian karena karakter tersebut membuat penampilannya hampir tidak dikenali setelah melalui proses motion capture dan efek visual. Fassbender mengaku ketertarikannya terhadap proyek tersebut bermula dari rekomendasi sang istri, Alicia Vikander, yang juga bergabung sebagai pemeran alien. Ia kemudian semakin tertarik setelah memahami visi besar Na Hong-jin terhadap cerita dan dunia yang ingin dibangun. Kesempatan bekerja bersama sutradara yang dikenal melalui The Wailing itu akhirnya menjadi salah satu faktor utama yang membuat Fassbender bersedia mengambil peran tidak biasa tersebut.
Keterlibatan Alicia Vikander memiliki pengaruh cukup besar terhadap keputusan Fassbender. Vikander lebih dahulu memiliki hubungan profesional dengan Na Hong-jin dan melihat proyek Hope sebagai kesempatan menarik untuk bekerja dalam produksi Korea Selatan berskala internasional. Ketika kesempatan tersebut muncul, Fassbender mendapatkan dorongan untuk ikut membaca dan mempertimbangkan proyek tersebut. Ia kemudian menemukan bahwa karakter alien dalam Hope tidak sekadar ditempatkan sebagai monster yang harus dilawan manusia. Para makhluk tersebut memiliki motivasi, hubungan keluarga, bahasa, dan sudut pandang sendiri yang menjadi bagian penting dari cerita. Pendekatan itu membuat peran tersebut menawarkan tantangan berbeda dibandingkan karakter yang sebelumnya dimainkan Fassbender.
Na Hong-jin memang merancang kelompok alien dalam Hope dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya konvensional. Sang sutradara tidak ingin makhluk asing hanya menjadi simbol ancaman yang muncul untuk menciptakan adegan aksi. Cerita justru berusaha memberikan ruang agar penonton dapat melihat konflik dari perspektif manusia sekaligus makhluk yang dianggap sebagai pihak asing. Perbedaan sudut pandang tersebut kemudian melahirkan kesalahpahaman dan kekerasan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan cerita. Na ingin penonton mempertanyakan siapa yang sebenarnya menjadi ancaman ketika dua kelompok tidak mampu memahami satu sama lain. Konsep semacam itulah yang memberikan ruang lebih besar bagi para aktor pemeran alien untuk membangun karakter secara emosional.
Fassbender sendiri memiliki pengalaman panjang memainkan karakter dalam film dengan dunia dan konsep yang tidak biasa. Ia sebelumnya terlibat dalam berbagai proyek fiksi ilmiah, fantasi, aksi, hingga drama psikologis. Namun, Hope memberikan pengalaman berbeda karena sebagian besar penampilannya harus diterjemahkan melalui teknologi motion capture. Gerakan tubuh dan ekspresi wajah para pemain menjadi dasar pembentukan karakter alien secara digital. Fassbender tetap harus memainkan emosi karakter meskipun penampilan fisiknya kemudian berubah drastis pada hasil akhir. Tantangan tersebut membutuhkan pendekatan akting yang berbeda karena ekspresi harus tetap dapat terbaca setelah melalui proses visual.
Na Hong-jin memilih menggunakan aktor profesional untuk karakter alien karena mereka memiliki peran lebih besar dalam keseluruhan dunia Hope. Sang sutradara mempertimbangkan menggunakan performer yang secara khusus berpengalaman dalam motion capture, tetapi akhirnya memutuskan memilih aktor yang mampu membawa kedalaman emosional. Cerita para alien tidak berhenti pada kejadian yang diperlihatkan dalam film pertama. Na telah mengembangkan latar belakang dan kemungkinan kelanjutan cerita yang memberikan porsi lebih besar kepada kelompok tersebut. Karena alasan itu, kemampuan para pemain menyampaikan emosi melalui dialog dan gerakan menjadi sangat penting. Fassbender dianggap memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan karakter Ma’veyyo.
Tantangan lain datang dari bahasa yang digunakan kelompok alien. Na Hong-jin tidak ingin mereka sekadar berbicara menggunakan bahasa manusia yang sudah dikenal penonton. Tim produksi kemudian mengembangkan bahasa khusus dengan melibatkan ahli bahasa dan akademisi. Struktur bunyi yang digunakan mengambil inspirasi dari bahasa kuno dan memiliki karakter pengucapan yang berbeda dari bahasa Korea maupun bahasa Inggris. Fassbender bersama para pemeran alien lainnya harus menghafalkan dialog dalam bahasa tersebut tanpa mengandalkan kebiasaan percakapan sehari-hari. Proses itu menjadi salah satu bagian paling menantang dalam persiapan mereka.
Keterlibatan Fassbender dan Vikander juga menjadi pengalaman unik karena pasangan tersebut sama-sama memainkan makhluk asing dalam satu film. Vikander berperan sebagai J’aur, sedangkan Fassbender memainkan Ma’veyyo. Keduanya tidak tampil sebagai versi diri mereka yang biasa dikenal penonton karena desain karakter menggunakan wajah dan gerakan para aktor sebagai dasar pembentukan makhluk digital. Pendekatan tersebut memungkinkan karakter alien tetap memiliki ekspresi manusia yang dapat dikenali secara emosional. Penonton dapat melihat kemarahan, ketakutan, kasih sayang, maupun kecemasan meskipun bentuk fisik mereka berbeda. Hal tersebut menjadi penting karena Hope berusaha membangun empati terhadap kedua sisi konflik.
Film tersebut mengambil latar sebuah komunitas terpencil di Korea Selatan yang tiba-tiba berhadapan dengan kemunculan makhluk misterius. Penduduk awalnya tidak memahami apa yang sedang mereka hadapi sehingga ketakutan berkembang menjadi konflik terbuka. Dari titik tersebut, cerita bergerak dari thriller lokal menuju fiksi ilmiah berskala jauh lebih besar. Na Hong-jin menggunakan pertemuan manusia dan alien untuk mengeksplorasi ketakutan terhadap pihak asing, prasangka, serta konsekuensi ketika komunikasi gagal dilakukan. Fassbender menjadi bagian penting dari perspektif lain yang perlahan diperlihatkan kepada penonton. Karakternya membantu memperluas cerita dari sekadar perburuan makhluk menjadi konflik antara dua kelompok yang sama-sama memiliki kepentingan.
Hope juga menjadi proyek penting bagi Na Hong-jin karena merupakan film panjang pertamanya setelah The Wailing yang dirilis satu dekade sebelumnya. Proses pengembangannya berlangsung bertahun-tahun dan berkembang menjadi salah satu produksi Korea Selatan dengan skala sangat besar. Film tersebut mempertemukan sejumlah bintang Korea seperti Hwang Jung-min, Zo In-sung, dan Hoyeon dengan pemain internasional termasuk Fassbender, Vikander, Taylor Russell, dan Cameron Britton. Kombinasi pemain tersebut sesuai dengan cerita yang mempertemukan dua kelompok dengan bahasa dan latar berbeda. Produksi berskala besar juga memberikan ruang kepada Na untuk menghadirkan adegan aksi, makhluk digital, serta dunia fiksi ilmiah yang lebih luas dibandingkan film-film sebelumnya.
Keputusan Michael Fassbender menjadi alien dalam Hope pada akhirnya tidak hanya didorong oleh kesempatan tampil dalam film fiksi ilmiah berskala besar. Rekomendasi Alicia Vikander membuka jalan baginya untuk mengenal proyek tersebut, sementara visi Na Hong-jin membuat ketertarikannya semakin kuat. Karakter alien yang memiliki latar belakang, emosi, dan perspektif sendiri menawarkan tantangan akting yang berbeda dari sekadar memainkan monster. Fassbender juga harus menghadapi proses motion capture serta menguasai bahasa khusus yang diciptakan untuk film tersebut. Dengan cerita yang masih memiliki ruang untuk dikembangkan, karakter alien dipersiapkan memainkan peran lebih besar dalam dunia Hope. Pengalaman tersebut membuat proyek Na Hong-jin menjadi kesempatan bagi Fassbender untuk menjajal bentuk akting sekaligus dunia sinema yang berbeda dari sebagian besar film Hollywood yang pernah dibintanginya.







